Kominfo: Efikasi Vaksin Covid-19 di Bawah 2% adalah Hoaks

Kominfo memastikan bahwa informasi mengenai vaksin Pfizer, Johnson&J, Moderna dan AstraZeneca memiliki tingkat efikasi rendah di bawah dua persen adalah hoaks.

SEJUMLAH informasi tidak benar atau hoaks terkait vaksinasi covid-19 kembali beredar di jagat maya. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pun meluruskan informasi tersebut.

Belakangan beredar sebuah unggahan terkait tingkat efikasi vaksin covid-19 di media sosial.

Ditulis bahwa empat vaksin yang beredar di masyarakat, yakni vaksin Pfizer, Johnson&J, Moderna dan AstraZeneca memiliki tingkat efikasi rendah di bawah dua persen.

Kominfo memastikan bahwa informasi tersebut merupakan hoaks.

Dilansir dari AFP, Dr Piero Olliaro, Penulis artikel berjudul “COVID-19 Vaccine Efficacy and Effectiveness — the Elephant (not) in the Room”  mengatakan bahwa, artikel tersebut bermaksud untuk memberikan pertimbangan tentang kemanjuran vaksin dan efikasinya ketika digunakan kepada populasi yang berbeda.

“Tidak benar membandingkan vaksin berdasarkan uji klinis menggunakan pengurangan risiko relatif (RRR), dan menganggap vaksin dengan RRR lebih rendah tidak bekerja dengan cukup baik,” ujar Kominfo dalam keterangan resminya, Sabtu (5/6/2021).

Selain itu, Kominfo juga menemukan informasi hoaks dalam sebuah pesan berantai WhatsApp yang memuat ajakan pendaftaran vaksinasi bagi masyarakat umum berumur 18-59 tahun dengan mengatasnamakan Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Setelah ditelusuri, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moh Abdul Hakam mengungkapkan bahwa pesan tersebut adalah hoaks.

Hakam mengatakan, secara khusus, tidak ada vaksinasi covid-19 massal bagi warga berumur 18-59 tahun.

Namun, warga berumur 18-59 tahun bisa mendapat vaksinasi covid-19 secara gratis lewat mekanisme 3 in 1. Artinya, mereka harus membawa dua lansia untuk divaksinasi Covid-19, sebelum akhirnya mendapat vaksinasi gratis.

Menanggapi banyaknya informasi hoax yang beredar, pakar imunisasi Julitasari Sundoro menekankan pentingnya penjelasan dari institusi yang kredibel dan dapat dipercaya.

“Institusi seperti Kemenkes dan Kemkominfo perlu jadi rujukan agar masyarakat jangan menelan mentah-mentah suatu berita dan informasi. Kita harus cek kembali kalau ragu dan tidak langsung menyebarkannya,” ujarnya.

Menjawab keraguan masyarakat terhadap kandungan vaksin covid-19, Julitasari mengatakan bahwa kandungan vaksin covid-19 sebenarnya adalah antigen dari virus SARS-CoV-2, yang diperlukan untuk membentuk antibodi.

“Apabila mendengar ada demam atau bengkak di tempat penyuntikan, itu adalah hal yang biasa saja dalam proses pembentukan antibodi dalam tubuh manusia. Reaksi-reaksi ringan akibat divaksinasi itu bisa hilang dalam satu dua hari. Dalam kartu vaksinasi pun sudah diberikan nomor kontak untuk menghubungi apabila terjadi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI),” tukas Julitasari.

Leave A Reply

Your email address will not be published.