Dialog Kehidupan Pendekatan Humaniora Diperlukan untuk Atasi Konflik Papua

RoyalNews.id, Jakarta – Akar konflik berkepanjangan merupakan penderitaan panjang masyarakat Papua sejak tahun 1960-an akibat tanah dan kekayaan alam mereka diambil dan dieksploitasi oleh pihak luar. Oleh karena itu, dialog kehidupan dengan pendekatan humaniora sangat dibutuhkan untuk mencabut akar masalah. Penegakan hukum saja tak akan menyelesaikan masalah Papua secara permanen.

Demikian diutarakan mantan Uskup Agung Merauke Nicolaus Adi Seputra, dalam webinar yang digelar Pengurus Pusat Pemuda Katolik.

“Konflik berkepanjangan di Papua, termasuk kini oleh KKB, adalah letupan-letupan kekecewaan dan penderitaan panjang warga Papua sejak thn 1960an. Saya cukup lama tinggal di Papua, hidup bersama warga di sana. Saya menyaksikan dan sangat yakin bahwa orang Papua itu cinta damai. Namun, kehidupan damai itu mulai terusik Ketika banyak yang datang dari luar dengan berbagai kepentingan,” ujarnya.

Dia mencontohkan, kekayaan alam Papua yang berlimpah di darat, di perut bumi, hingga di laut yang tak pernah habis adalah hak bersama warga Papua. Ketika para pendatang (domestik dan global) terus datang bergelombang, lama-lama milik bersama itu terlepas satu per satu. Mereka tak berdaya karena keterbatasan mereka. Tanah mereka dikapling-kapling, lalu sebagian dari mereka harus mengungsi ke tanah yang bukan milik mereka. Mereka merasa dipinggirkan.

“Jadi, mereka rindu dibantu. Otonomi Khusus tidak mereka rasakan. Karena itu, dialog kehidupan sangat dibutuhkan. Pendekatan terbaik ialah Pendekatan humaniora. Berbagai kegiatan pembangunan harus memprioritaskan pemberdayaan orang Papua sendiri. Buat roadmap pembangunan 25 tahun ke depan dengan fokus kepada orang Papua,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, menilai situasi dan kondisi kontradiktif di Papua penting untuk dicermati.

“ Presiden Jokowi memberikan perhatian yang besar terhadap pembangunan masyarakat Papua seperti infrastruktur jalan trans-Papua dan satelit, BBM satu harga, masuknya investor Membangun Papua, ratusan mahasiswa sekolah di universitas favorit di dalam negeri dan luar negeri, ASN juga dibuka lebar untuk orang Papua, termasuk masuk menjadi anggota TNI/Polri,” ulasnya.

Ilustrasi KKB di Papua
Ilustrasi KKB di Papua

Namun di sisi lain, perlawanan kelompok bersenjata justru semakin membesar. Bersamaan dengan itu, pelanggaran HAM juga meningkat.

“Sesungguhnya, sejak Reformasi muncul kesadaran baru tentang Papua sehingga lahirlah UU Otonomi Khusus yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Papua. Ini semacam resolusi konflik. Namun, Jakarta masih saja curiga terhadap Papua, termasuk bagaimana Pendekatan keamanan masih tetap saja dijalankan sampai hari ini,” ujar Bonar.

Bonar menyebut tiga solusi yang harus dilakukan secara simultan. Pertama, Pendekatan hukum. Kedua, Pendekatan pembangunan yang berkeadilan dan menyejahterakan masyarakat Papua. Ketiga, mendengarkan aspirasi semua pihak dalam wadah dialog yang beradab.

Setara Institute sejak awal kata dia telah menegaskan bahwa label teroris terhadap KKB tidak perlu karena bisa kontra-produktif. Dia juga mempertanyakan apa target pelabelan teroris terhadap KKB.

“Kita jangan terjebak pada perang narasi. Jangan sampai pelabelan KKB sebagai teroris justru memberikan amunisi bagi kelompok-kelompok bersenjata di Papua untuk meningkatkan perlawanan. Jadi, kita harus tetap fokus pada satu titik: penyelesaian secara permanen,” pungkas Bonar.

Aksi Papua
Foto: Massa membakar ban saat kerusuhan di pintu masuk Jalan Trikora Wosi Manokwari

Sementara Komisioner HAM Amirudin Al Rahab mengatakan debat tentang pelabelan teroris terhadap KKB tidak diperlukan lagi karena sudah menjadi keputusan Pemerintah. Fokus perhatian kita sekarang ialah bagaimana agar keadaan tidak menjadi lebih buruk.

“Kewajiban Komnas HAM sekarang menjaga kondisi kondusif bagi tegaknya HAM di Papua. Main tumpas bukanlah pilihan karena lukanya akan sangat dalam. Saya sungguh berduka atas banyaknya korban yang sudah jatuh. Nah, mari kita mencari jalan terbaik agar masalah terselesaikan tanpa memakan banyak korban lagi,” ujar pria yang mengaku sudah puluhan tahun keluar masuk pedalaman untuk menyelesaikan masalah Papua.

Leave A Reply

Your email address will not be published.