Aksi Protes di Museum Mengecam Perlakuan Picasso terhadap Perempuan

Maria Llopis dan tujuh siswinya muncul di dalam Museum Picasso mengenakan kaos bertuliskan "Picasso, pelaku pelecehan perempuan" dan tulisan-tulisan lainnya.

Seorang profesor dari sekolah seni Barcelona melakukan protes di sebuah museum yang didedikasikan untuk Pablo Picasso. Protes itu dimaksudkan untuk menjelaskan perilaku Picasso yang terkadang kasar terhadap perempuan.

Maria Llopis dan tujuh siswinya muncul di dalam Museum Picasso mengenakan kaos bertuliskan “Picasso, pelaku pelecehan perempuan” dan tulisan-tulisan lainnya.

Hal itu merujuk pada Dora Maar, seorang seniman perempuan Prancis yang diyakini telah dilecehkan oleh Picasso selama hubungan mereka antara tahun 1930-an dan 1940-an.

Aksi protes yang diinisiasi gerakan #MeToo ini telah menggemakan debat global terkait perlakuan laki-laki terhadap perempuan, mencakup penilaian ulang terhadap perilaku orang-orang yang sudah meninggal serta orang-orang yang masih hidup.

Di Spanyol, hak-hak perempuan telah beranjak ke garis depan politik dalam beberapa tahun terakhir setelah beberapa kasus pemerkosaan dan pelecehan cukup mencuri perhatian publik.

Llopis, 45, mengatakan protes sederhananya itu adalah untuk menyuarakan bahwa pihak museum kurang memberikan perhatian pada bagaimana hubungan Picasso dengan perempuan, khususnya pada pekerjaan dan kehidupan Maar yang bermasalah setelah mereka putus.

“Protes ini bukan serangan terhadap Picasso, saya sama sekali tidak percaya pada budaya pembatalan. Saya percaya pada kebenaran, tidak menyembunyikan sesuatu,” ujarnya.

Mahasiswa melakukan protes di dalam Museum Picasso di Barcelona, ​​Spanyol 27 Mei 2021.

Direktur museum, Emmanuel Guigon, mengatakan dia menghormati aksi protes itu dan menganggap debat yang didorongnya bersifat fundamental.

Dia mengatakan sudah merencanakan pembicaraan musim gugur mendatang tentang hubungan Picasso dengan perempuan dan pameran tentang masalah tersebut.

“Kita tidak bisa melihat karya dan kehidupan Picasso seperti yang kita lakukan 20, 40 atau 50 tahun lalu,” katanya.

“Hal itu selalu dapat dilihat dengan kaca mata baru dan kritis, namun kami tidak akan menghapus karya Picasso dari sejarah seni,” lanjut Guigon.

Guigon mengatakan Picasso tidak dapat disangkal “sangat machista”, namun dia tidak mengetahui kasus-kasus kekerasan fisik dalam kehidupannya.

Picasso, yang hidup dari tahun 1881 hingga 1973, memiliki banyak hubungan dengan perempuan sepanjang hidupnya.

Dalam sebuah buku yang terbit tahun 2001, Marina Picasso, cucu Picasso menulis bahwa pelukis Spanyol itu akan menyingkirkan perempuan setelah dia “menundukkan mereka ke dalam seksualitas liarnya, menjinakkan mereka, menyihir mereka, mencerna mereka dan meremukkan mereka ke kanvasnya”.

Sejarawan seni Victoria Combalia, dan penulis biografi Maar, menganggap protes Llopis dangkal, namun dia tetap mendukung penempatan informasi tentang konteks di balik beberapa lukisan Picasso di Museum.

Ditanya tentang kemungkinan itu, direktur Museum Guigon mengesampingkannya, dengan mengatakan bahwa lebih penting untuk mengadakan debat.

Menurut Combalia, ada bukti yang menunjukkan bahwa setidaknya sekali Picasso sangat mungkin meninju mata Maar, dan bahwa dia bisa dianggap kasar terhadap perempuan pada umumnya.*

Leave A Reply

Your email address will not be published.